please visit www.rahmanhakim.com

blog ini sudah tidak aktif dan telah dipindahkan dan diaktifkan kembali di www.rahmanhakim.com. silakan mengunjungi www.rahmanhakim.com..

Ternyata masih ada anggapan Advising Bank indentik dengan Negotiating Bank

Posted by Rahmanhakim pada September 8, 2008

beberapa bulan lalu saya menemukan dalam suatu transaksi, pihak seller di Eropa mempersyaratkan LC dikirim ke Bank tertentu (Bank A) sebagai advising bank dan tidak menginginkan LC di teruskan ke advising bank lain, sementara issuing bank-nya buyer tidak punya hubungan correspondent dengan bank yang ditunjuk oleh seller sebagai advising bank (Bank A), tetapi hanya punya hubungan dengan Bank B, padahal masalah yang simple ini bisa diselesaikan dengan menggunakan metode intermediary Advising atau dikenal dengan advise thru dari bank koresponden issuing bank (Bank B) ke bank yang ditunjuk oleh seller (Bank A). tetapi ternyata seller punya alas an lain, yaitu seller takut tidak bisa menegosiasi dokumen di Bank A karena dia hanya punya fasilitas Nego di Bank A kalau LC di-advise oleh Bank B.Pandangan atau asumsi bahwa advising bank identik atau harus menjadi negotiating bank masih banyak terjadi terutama dipahami oleh pihak penjual/eksportir baik di Indonesia maupun di luar negeri, walaupun saya yakin lebih banyak pula yang sudah mengerti perbedaannya.
Perbedaan mendasar antara advising bank dan negotiating bank bisa kita share lagi di sini, Menurut UCP 600 pasal 2 Advising Bank adalah Bank yang hanya meneruskan LC kepada beneficiary, sedangkan Negotiating Bank adalah Bank yang membeli “to purchase” atau menyetujui untuk membeli dokumen beneficiary yang sesuai. Dari definisi di atas dapat kita lihat bahwa peran advising bank hanya terbatas pada penyampaian dan autentikasi LC, peran ini terpisah dengan Negotiating bank yang berperan lebih sebagai agent pembayar dari issuing bank.
Dari cerita di atas jelas dapat diselesaikan dengan intermediary advising, kecuali Negotiating Bank di sana mempersyaratkan kepada seller dalam perjanjian fasilitas negosiasinya, bahwa advising LC harus langsung ke bank tersebut tanpa perantara dari bank lain, untuk (mungkin) memaksimalkan fee based income-nya lewat komisi advise LC (di Indonesia biasanya 2nd advising bank sudah tidak lagi menarik fee dari intermediary advising LC 1st advising bank, karena 1st advising bank sudah mengambil advising fee tersebut).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: